Kita yang pernah Ada
Semuanya bermula tanpa rencana.
Hanya waktu senggang dan layar ponsel yang kugulir pelan, membiarkan cerita-cerita orang lain lewat begitu saja. Hingga sebuah unggahan membuat jariku berhenti.
Seorang perempuan.
Senyumnya sederhana, namun ada sesuatu yang diam-diam mengetuk perasaanku. Bukan hanya karena parasnya yang cantik, melainkan karena ada rasa hangat yang sulit kujelaskan—seperti perasaan pernah mengenal, meski aku yakin kami belum pernah bertemu.
Tanpa banyak pertimbangan, aku membalas unggahannya: “Love it.”
Kalimat singkat, nyaris tak berarti.
Namun siapa sangka, dari situlah cerita ini bermula.
Balasannya datang dengan sopan: “Thank you.”
Saat itu aku tersenyum kecil, sekaligus bingung.
Aku tidak benar-benar mengenalnya. Nama akun itu asing, wajahnya terasa familiar tapi tak cukup jelas untuk kuingat. Disisi lain, ia pun bertanya-tanya—siapakah aku yang tiba-tiba hadir di ruang pribadinya?
Kami mulai berbincang.
Pelan, sederhana, tanpa ekspektasi.
Percakapan ringan berubah menjadi tawa kecil, lalu menjadi rasa penasaran yang tumbuh diam-diam. Ada kenyamanan yang muncul tanpa dipaksa, seolah kami tidak sedang berbicara dengan orang asing.
Semakin lama, aku merasa ada sesuatu yang aneh—namun indah.
Cara ia berbicara, cara ia menanggapi, terasa dekat. Terlalu dekat untuk sekadar kebetulan. Seperti kenangan lama yang berusaha muncul kembali ke permukaan.
Hingga akhirnya, satu pengakuan membuka semua tabir.
Ia ternyata tetanggaku sendiri.
Lebih dari itu, ia adalah putri dari sahabat terbaik ibuku.
Dunia seakan terdiam sesaat.
Hatiku tercekat, lalu tersenyum.
Karena ternyata, ia bukan hanya seseorang yang baru kutemui.
Ia adalah teman masa kecilku—seseorang yang pernah hadir di masa lalu, ketika hidup masih sesederhana bermain dan tertawa tanpa beban.
Kami tidak bertemu untuk pertama kalinya.
Kami hanya bertemu kembali,
setelah waktu memisahkan,
setelah kehidupan mengubah kami menjadi pribadi yang berbeda.
Betapa aneh sekaligus indah cara semesta bekerja.
Di tengah dunia yang serba cepat, di antara ribuan unggahan dan pesan, aku justru dipertemukan kembali dengan seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupku.
Dari sebuah pesan iseng,
lahir sebuah kisah yang tak pernah kami rencanakan.
Mungkin, cinta memang tidak selalu datang dari arah yang asing.
Kadang, ia hanya pulang—
kepada seseorang yang sejak dulu sudah pernah ada.